Selama 10 Bulan, sering terjadi karhutla di wilayah Situbondo.

  • Whatsapp

Situbondo TKTNEWS.net – Pada musim kemarau Tahun 2019, kebakaran hutan dan lahan kosong, marak terjadi di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Tercatat, hingga awal bulan November 2019 sering terjadi kebakaran hutan jati dan lahan kosong terbakar mencapai sekitar 30 titik api (Hot Spot).

Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Situbondo, Drs Budi Narwanto M Si saat ditemui Wartawan Media online ini melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Situbondo, Gatot Trikorawan,SE,.M.Si mengatakan, bahwa berdasarkan data kami, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Situbondo terjadi kurang lebih 30 titik api (Hot Spot). Mulai dari wilayah ujung barat hingga ujung timur Kabupaten Situbondo.

“ Pemadaman karhutla yang terjadi di wilayah Situbondo, membuat petugas BPBD bersama instansi terkait jajaran TNI/POLRI, PMK, Perhutani dan Muspika setempat harus bekerja keras dan lebih ekstra, untuk penanganan Karhutla. Selain karena terkendala dengan medan (karhutla) yang sangat ekstrem, juga karena terbatasnya alat pemadam kebakaran, ” kata Gatot Trikorawan, Rabu (6/11/2019) sore. 

Sambung Gatot. Sebab, sebagian besar lokasi hutan jati yang terbakar itu lokasinya bertebing dan terjal, sehingga kobaran api sulit untuk dipadamkan.

“ Sedangkan petugas yang datang ke lokasi kejadian, hanya memantau peristiwa kebakaran hutan jati tersebut, ” bebernya.

Menurutnya, Pemkab Situbondo hanya mempunyai tujuh armada pemadam kebakaran (Damkar). Yaitu rinciannya, satu unit siaga di wilayah barat (Kecamatan Besuki), satu unit di wilayah timur (Kecamatan Asembagus) dan lima unit Damkar siaga di wilayah kota.

“ Sehingga begitu ada peristiwa kebakaran, petugas Damkar langsung meluncur ke lokasi kejadian, ” ujar Gatot Trikorawan.

Karenanya, pihaknya harus lebih memaksimalkan penggunaan peralatan dan perlu peningkatan mobilisasi PMK atau penambahan unit mobil kendaraan pemadam kebakaran (PMK). 

Nantinya, lanjut Gatot, bisa siaga di beberapa titik potensi kebakaran hutan. Sehingga jika terjadi kebakaran hutan bisa segera cepat teratasi.

Gatot Trikorawan

“ Sedangkan untuk personel di lapangan sudah dirasa cukup, karena selain kerap dibantu anggota kepolisian dan TNI, ada juga relawan yang selama ini turut membantu petugas mengatasi kebakaran hutan dan lahan, ” pungkasnya. (imam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan