Jadi Korban Phising Saldo rekening Ratusan Juta Milik Warga Tulungagung Lenyap

  • Whatsapp

Tulungagung TKTNews net- Setidaknya ada 10 warga asal Kabupaten Tulungagung menjadi korban Phising atau pencurian perbankan yang mengalami kerugian ratusan juta rupiah ketiga mengetahui tabunganya di buku rekening menyusut secara pesat.

Sebelum diketahuinya, korban sempat ditelpon orang yang mengatasnamakan dari pihak bank itu sendiri. Dari pihak bank itu menyampaikan bahwa nasabah mendapat hadiah atau poin.

Kemudian pelaku menayakan angka yang di depan atau belakang yang tertera di ATM tersebut.

Bahkan dengan cara menglabui, korban juga ditanya nama lengkap orang tuanya. Seperti yang diminta pada pelaku yaitu nama lengkap dari ibu korban.

Pelaku selanjutnya meminta korban untuk mengirimkan kode One Time Password (OTP) yang baru dikirim pelaku ke hp korban.

Modus kejahatan ini disadari korban pada saat melakukan transaksi. Korban mengetahui pada saldo rekening sudah keadaan kosong.

Kasatreskrim polres Tulungagung AKP Ardyan Yudo S, membenarkan adanya kejahatan tersebut. Laporan korban sudah masuk ke polres Tulungagung sejak akhir bulan April 2020. Korban yang melaporkan berjumlah 10 orang, modusnya sama, 10 orang tersebut juga mengalami kerugian ratusan juta rupiah.

” 10 orang ini para korban yang berasal dari satu bank milik pemerintah. Setelah diselidiki, mereka adalah korban Phising atau pencurian perbankan,” katanya, Selasa (12/05).

Ia mengatakan, korban Phising adalah modus penipuan dengan cara pendekatan hingga mempengaruhi korban agar melakukan tindakan, biasa pelaku melakukan modusnya dengan cara menelpon korban untuk mengikutinya perintahnya.

Setelah melakukan penelusuran, Ia mengatakan raibnya tambungan korban di rekening tersebut modus pelaku yaitu dengan cara memindahkannya diberbagai dompet digital.” Uangnya tidak tarik tunai begitu, namun modusnya memindahkan tambungan milik korban ke dompet digital,” terangnya.

Dirinya menjelaskan, pelaku diduga mencari sasaran korban dengan cara beraksi mengacak ke pemilik nomor bank, karena dengan begitu pelaku bisa mengelabui korban, dengan seolah yang menghubungi dari pihak bank itu sendiri.

” Modusnya pelaku butuh nomer telepon dan nomer rekening pelaku melakukan kejahatannya,” katanya.

Karena keterbatasan pengetahuan karban tidak mengetahui kalau modus pelaku mengarah ke kejahatan, dan menangapinya.” Rekening ini kebanyakan tambungan di bank yang sama. Rata-rata pemiliknya dari warga pedesaan,” katanya.

Adanya kejahatan modus seperti ini pihaknya sudah melakukan menyelediki guna membokar jaringan kejahatan yang dilakukan pelaku serta melakukan kordinasi bersama pihak bank.

” Petugas sudah melakukan penyelidikan ini untuk membongkar jaringan kejahatan tersebut” jelasnya.

Pihkanya pun menghimbau kepada masyarakat, bila ada modus semacam ini jangan sekali-kali memberikan data apapun, atau yang paling penting jangan pernah memberikan kode One Time Password (OTP), sebab kode OTB adalah kode yang memberi izin orang untuk melakukan transaksi(Gun)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan