Bersama Stakeholder Terkait, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin Turun Langsung Menemui Warga Desa Sumurup .

  • Whatsapp

Trenggalek TKTNews net Masyarakat yang terdampak pembangunan Bendungan Bagong untuk mendiskusikan sekaligus menggali solusi atas beberapa keluh kesah warga terkait proses pembangunan Bendungan Bagong.

Jaimin, salah satu perwakilan paguyuban Griya Mulya Desa Sumurup mengatakan warga terdampak mendukung dengan adanya proyek strategis nasional Bendungan Bagong yang rencananya akan dibangun. Selain itu juga dikatakan olehnya bahwa warga Desa Sumurup menyambut baik beberapa stakeholder terkait mulai dari Perhutani, BBWS Brantas, BPN, Kementerian PUPR, dan OPD yang dihadirkan secara langsung oleh Bupati Trenggalek. Sehingga setiap keluh kesah warga bisa dijawab secara langsung sesuai dengan tupoksi masing-masing stakeholder tersebut.

Dikonfirmasi usai berdiskusi bersama warga, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin menuturkan masyarakat terdampak menginginkan kejelasan tahapan, untuk itu Bupati menjelaskan sampai saat ini proses pembangunan Bendungan Bagong sudah memasuki tahapan pembebasan lahan.

Bupati menjelaskan saat ini BPN telah melakukan pengukuran dan untuk beberapa bidang tanah sudah ada pengumuman, tinggal nanti masyarakat koreksi kemudian baru dilaporkan untuk dilakukan appraisal.

Lebih lanjut untuk kawasan-kawasan yang berada di sekitar batas hutan masih menunggu penetapan batas hutan, kemudian beberapa tim dari Pemkab Trenggalek juga sudah memaparkan beberapa setplan, resettlement, atau pemukiman baru di beberapa lokasi tanah.

Sementara itu dengan adanya usulan terkait lahan pengganti, Pemkab akan membantu memfasilitasi warga untuk diantarkan ke lahan pengganti di 2 opsi lokasi yakni di Pacitan dan Wonogiri yang juga akan disurvey oleh tim. Sehingga jika lahan penggantinya sudah ada karena mekanismenya masyarakat kan cash and carry, nanti masyarakat dapat uang untuk beli lahan pengganti, lahan penggantinya di tukar dengan kawasan hutan yang ada di Trenggalek untuk dijadikan pemukiman baru.

Sedangkan terkait dengan fasum fasos akan dibicarakan dengan pemrakarsa dalam hal ini BBWS Brantas bersama Pemerintah Kabupaten Trenggalek.

“Intinya kami sudah merencakan set plan, nah masyarakat tadi sudah tau gambarnya bagaimana model rumahnya harapannya masyarakat bisa paham,” tutur Bupati Nur Arifin.

Terus proses pengerjaannya tahapan-tahapannya bulan ini di RB sekian, pengerjaan direksi keet di RT 15. Kemudian nanti RT 13 dan RT 14 ada penelitian geologi untuk mengetahui kondisi tanah.

“Nah ini semua juga disampaikan ke masyarakat jadi biar masyarakat nanti tidak kaget tidak penolakan dan sebagainya, sehingga program strategis nasional ini bisa berjalan,” jelas Bupati.

“Langkah tercepat yang akan dilakukan untuk masyarakat ya membantu mereka mencari lahan pengganti, terus kemudian kita usulkan TMKH nya ke Kementerian LHK,” pungkasnya.(Fii )

Pos terkait

Tinggalkan Balasan